
Renovasi Rumah Nek Aci
Juli 9, 2018
Kisah Katrin
Juli 30, 2023“Barang siapa yang membantu seorang Muslim (dalam) suatu kesusahan di dunia, maka Allah akan menolongnya dalam kesusahan pada Hari Kiamat. Dan barang siapa yang meringankan (beban) seorang Muslim yang sedang kesulitan, maka Allah akan meringankan (bebannya) di dunia dan akhirat” [HR. Muslim]
---
Segala sendi kehidupan tentu tidak dapat terlepas dari guru, baik guru sekolah maupun guru agama. Dai atau Ustadz adalah guru agama yang banyak ajarkan kita ilmu agama, Islam dan iman. Namun tidak semua dai dimulaikan sebagaimana seharusnya guru dimuliakan

Adalah sosok Ustadz Susanto, seorang Dai pelosok di desa mekar jaya, Langkat, Sumatera Utara. Dirinya telah berjuang lebih dari 28 tahun mengajarkan agama Islam tanpa kenal lelah. Keterbatasan fasilitas dan besarnya tantangan di daerah minoritas tidak menyusutkan semangat berdakwah Ustadz Sutanto.
Awal perjalanan dakwah Ustadz Sutanto begitu terjal, agama Islam sangat asing di sana. Bahkan saat ada salah satu muslim yang meninggal, pernah tidak ada yang sanggup untuk memulasarkan jenazah secara Islam (memandikan, mengkafani, menyolatkan hingga menguburkan) sebab dulu tidak ada Ustadz yang sanggup memimpin pemulasaran jenazah.
Saat itulah, dirinya terketuk untuk memulasarkan jenazah secara Islam berbekal pengetahuan madrasah aliyahnya dulu. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu, Islam mulai mendapatkan tempat di hati penduduk kampung. Mereka mulai sholat lima waktu, mengaji Al-Qur’an, membayar zakat dan aktivitas keagamaan lainnya. Bahkan zakat fitrah adalah hal yang “baru” bagi kampung ini.

Sayangnya perjuangan dakwah Ustadz Sutanto tidak berjalan dengan mudah, sering dirinya difitnah berbagi hal keji. Belum lagi himpitan ekonomi membuat perjuangan dakwah Ustadz semakin sulit. Selama mengajarkan agama Islam, Ustadz Sutanto tidak pernah meminta bayaran atau bisa dikatakan gratis. Seluruh ilmunya diajarkan semata-mata untuk memuliakan agama. Jika kita melihat rumahnya tak ubahnya seperti “gubuk tua” yang kurang terawat. Bahkan pernah rumah Ustadz kemalingan karena tembok rumah yang kurang aman.


Kisah seperti Ustadz Sutanto ini banyak kita temukan di dai-dai pelosok yang hidup dengan segala keterbatasan dan kesulitan akses. Ada yang harus menempuh jarak jauh untuk berdakwah. Ada yang harus berdakwah dengan berjalan kaki, ada pula yang hidup kurang layak. Namun semua dai ini punya satu tujuan yang sama agar cahaya Islam tetap menyala bahkan di pelosok negeri.
Hal ini mendorong Gheras Indonesia untuk mendukung program dakwah kepada dai pelosok negeri. Bantuan yang terkumpulkan akan digunakan untuk memuliakan para Dai pejuang agama Islam. Mari tebarkan kebaikan untuk Ustadz Sutanto dan Dai pelosoklainnya, muliakan mereka dapatkan keberkahan doa mereka.



